KABARNEWSLINE –Kepulauan Riau kembali menjadi ladang subur bagi peredaran rokok ilegal. Bukan hanya satu atau dua merek, tapi kini berbagai varian terus berganti wajah, tanpa ada tanda-tanda perlambatan.
Setelah Hmind sebelumnya ramai diperbincangkan, muncul tiga nama baru: PSG, UFO Mind, dan UFO Bold. Semua ditemukan beredar luas tanpa pita cukai resmi, dan dijual terang-terangan di berbagai wilayah.
Situasi ini menimbulkan satu pertanyaan besar: “Mengapa mafia rokok ilegal tampak lebih terorganisir, lebih berani, dan lebih stabil dibanding negara?”
Pemerintah pusat melalui berbagai kementerian dan instansi resmi menyebut kerugian negara akibat rokok ilegal mencapai triliunan rupiah per tahun. Sektor cukai tembakau sendiri merupakan salah satu penyumbang terbesar penerimaan negara.
Namun ketika rokok tanpa cukai masih bisa dijual secara terbuka, klaim kerugian negara menjadi paradoks. Jika kerugiannya besar, mengapa langkah penindakan nyaris tidak terdengar?
Jaringan rokok ilegal terlihat begitu sistematis:
- Masuk melalui pelabuhan-pelabuhan kecil
- Disebar melalui gudang-gudang tersembunyi
- Sampai ke tangan pengecer tanpa hambatan
Di sisi lain, penegakan hukum berjalan sporadis. Operasi yang dilakukan lebih banyak menyasar pengecer kecil ketimbang penyedia besar. Mafia tampak bekerja dalam senyap tapi efektif, sementara negara terdengar dalam wacana, tapi sunyi dalam tindakan.
Nama-nama rokok ilegal yang terus berganti menunjukkan satu hal: jaringan distribusinya tetap hidup dan nyaris tak terganggu. Jika satu merek ditekan, tiga merek baru muncul. Ini mengindikasikan ketiadaan efek jera dan absennya penindakan menyeluruh.
Aparat penegak hukum dan otoritas pengawasan seperti Bea Cukai belum menunjukkan langkah menyentuh pemain utama. Isu soal “koordinasi” di lapangan, meski belum terbukti secara publik, menambah kesan adanya kompromi diam-diam yang melemahkan penegakan hukum.
Tanpa transparansi dan tindakan nyata, wajar jika publik menilai mafia lebih berani daripada negara. Jika benar rokok ilegal merugikan negara, maka negara harus bertindak seperti pihak yang benar-benar dirugikan: berani, tegas, dan menyentuh dalang utamanya, bukan sekadar menindak pengecer.
Sejarah akan menuliskan: Di satu masa, mafia rokok ilegal lebih cepat bertindak dibanding negara yang seharusnya menjaga hukum dan uang rakyat.


0 Komentar